Khamis, 1 Oktober 2009

Memaafkan kesalahan orang lain.




“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, (namun) barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang menjahatinya) maka pahalanya ditanggung Allah (karena mulianya). Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berbuat zalim. (QS. Asy-Syura: 40). Salah satu perbuatan yang sangat mulia dan dicintai Allah adalah memberi maaf kepada orang lain. Jalur ini pula yang mendorong terciptanya kedamaian di antara umat manusia. Meskipun demikian mulia, sebahagian orang memandangnya remeh. Sebab, ada yang beranggapan, memberi maaf, lebih-lebih terhadap orang yang pernah memusuhinya, pertanda lemahnya seseorang.

Padahal sesungguhnya, beratnya hati seseorang membuka pintu maaf bagi sesama insan yang sempat berbagi kesempatan hidup di dunia ini merupakan pertanda lemahnya yang bersangkutan. Bisa dikatakan, orang yang demikian tak sanggup mengendalikan emosi. Dengan kata lain, ia telah bertekuk lutut atau menyerah telak di hadapan nafsu amarahnya.

Kalau selama hidupnya, perasaan demikian tetap dipelihara, maka selamanya yang bersangkutan kalah di dunia ini. Dengan kata lain, ia tak mampu merebut salah satu hal yang dicintai Allah. Kalau tak mampu berbuat demikian, berarti memelihara apa yang dibenci Allah. Permusuhan adalah sesuatu yang dibenci. Sebab, hal itu boleh menjadi sumber bencana lainnya. Karena itu, tak ada pilihan yang lebih baik, lebih-lebih di hari kemenangan Idul Fitri, kecuali saling memaafkan. Bukankah telah dikatakan bahwa salah satu tanda kemenangan adalah berhasil menaklukkan hawa nafsu? Serambi/-
Dicatat oleh DRS. KHALIL IDHAM LIM

Tiada ulasan:

Catat Ulasan